Rabu, 07 Februari 2018 | 20.40 | 0 comments
Assalamualaikum Wr.Wb
Hai...
Hari ini aku membagi beberapa cerpenku yang pernah lolos seleksi ^^
Salah satunya cerpenku yang berjudul 'Dream Media Sehat' yang pernah dimuat di Website literasi.jabarprov.co.id dalam periode West Java Leader's Reading Challenge 2016/2017
Oh ya kalau kalian mau melihat versi asli, Bisa di sini.
Selamat membacaa...
Dream Media Sehat
Cerpen tahun 2012...
Masalah Media sehat untukku...
Curhatan kecilku...
Aku begitu kesal melihat Nenek dan Adikku menonton televisi terlalu lama. Kenapa? Pasti deh habis itu adekku selalu bertanya aneh-aneh padaku. Apalagi sehabis menonton sinetron yang ditayangkan di salah satu televisi swasta. Kenapa ada sihir? kenapa ada pacaran? Apa itu cinta?. Aku juga merasakan kesal ketika tetanggaku mengeraskan volume gamesnya di laptop sampai kedengaran diriku yang sedang asik menulis. Kenapa? Kenapa harus begitu serius memainkan games tanpa pedulikan orang lain? Termasuk diriku.
***
2014...
Ibu melarangku menyalakan televisi. Kenapa? Padahal acara favoritku tidak aneh-aneh. Atau sengaja Ibu merusak televisi? Ya mungkin iya juga sih. Ku tahu, televisi itu memang kurang terkenal mereknya. Tetapi, kenapa Ibu tak membelikan lagi?
Awal-awal masa tanpa televisi itu benar-benar aneh. Serius aneh banget. Mungkin aku sering menyalakan televisi bahkan di hape yang ada televisinya masih ku nyalakan tersembunyi ketika malam hari. Itupun tak sering kok.
"Nonton tipi mulu. Mau jadi apa nanti?!" tegas Ibuku.
Jujur aku kesal banget. Bosan. Kadang-kadang aku mengintip di beberapa rumah ketika pulang dari masjid. Bahkan saking kangennya, pernah ketika itu aku di karangtina lomba tingkat nasional menyalakan televisi sampai malam.
"Kak Nisa nggak tidur?" tanya Tenri bingung. Tenri adalah adek kelasku dari Pontianak plus sekamar denganku pas di karangtina lomba.
Dengan santai aku menjawab, "Hehehe... Ntar juga tidur,"
“Besok kan ketemu Pak Menteri kak. Istirahat dulu kak. Malu ketemu Pak Menteri dengan kantong mata,†saran Tenri. Aslinya memang besok akan bertemu dengan Pak Menteri Pendidikan.
Aku tak menjawab. Aku masih asik dengan acara komedi yang disiarkan di salah satu stasiun swasta yang masih hangat diperbincangkan.
Tapi lama-lama aku terbiasa. Ibu membelikan buku yang banyak. Banyak... Sebagai hiburanku. Walau begitu aku juga bosan. Aku melarikan diri ke laptop. Menulis adalah salah satu cara untuk menyembuhkan ke bosananku.
Dan saat itu aku belum tahu bahaya televisi. Mungkin suatu saat nanti. Media sehat pasti terwujud.
***
2016...
Sinetron India memang sedang naik daun pada tahun ini. Bagaimana tidak, sering kulihat beberapa televisi mulai menyiarkan sinetron India. Yang nonton pun beragam. Mulai anak kecil hingga dewasa.
Dipertengahan tahun 2016 pula terdapat sinetron lokal yang sepertinya sedang naik daun dengan artis terbaru. Beberapa orang menontonnya pasti akan BAPER(bawa perasaan). Seperti diriku. Ups... Emang aku nonton dimana sampai tahu itu sinetron itu dari anak kecil sampai dewasa menjadi baper. Bisa dong, bukan di televisi. Tetapi benerapa akun sosmed juga ada ringkasannya. Belum lagi ada drama dari Korea Selatan yang bikin para remaja makin baper. Beberapa film lokal di bioskop pun hampir sama. Mungkin tahun ini dinamakan tahun BAPER.
"Bu," panggilku kepada Ibu penjual nasi Padang dekat rumahku.
Ibu itu masih fokus. Fokus dengan sinetron India yang ditayangkan kurang lebih jam 16.00 WIB tanpa pedulikan aku datang dengan perut tak tahan untuk segera ingin makan. Mungkin Ibu itu lebih sayang sama sinetron itu.
"IBUUUUU BELIII!!!" teriakku akhirnya. Namanya orang lapar.
Ibu itu akhirnya peka juga dan mulai membungkus pesananku sambil melihat sinetron itu. Tak mengerti apakah Ibu itu pandai dalam perhitungan. Hingga ketika mengambilkan daun singkong, "Bu kok daun singkongnya dikit amat sih?".
Ibu itu mengambil lebih banyak. Waduh bisa asam urat nih aku. Wkwk. Tapi aku kesal juga sih. Kenapa Ibu itu sampai tak peka kedatanganku.
Di pertengahan tahun ini terdapat pula games yang sedang panas-panasnya(sudah seperti bumi saja. Makin hari makin panas). Suatu hari, Car Free Day... Seperti biasa, aku dan tetanggaku akan berolahraga bersama. Tapi kali ini berbeda. Dulu dia yang mengeraskan volume games. Sekarang malah membuatku makin kesal. Bagaimana tidak, seharusnya ngobrol bersama pas istirahat, dia malah main salah satu games yang lagi nge-hot. Sepertinya dia tak peduli lagi denganku.
"Di kacangi mulu," kesalku.
"Maksudnya?" tanya dia pura-pura sok tidak tahu.
"Ya ajak ngobrol gitu. Jarang kan CFD bareng," jawabku masih dengan emosi.
"Bisa lewat sosmed kali Nis," balasnya masih fokus dengan layar munyil itu.
Cinta...
Televisi bisa mengajarkan apa saja ataupun atupun menjatuhkan siapa saja. Apalagi tentang cinta. Suami istri baru nikah, trus cerai. Nikah yang lain, trus cerai. Eh ending-nya ama mantan suami istrinya. Tapi apakah enak seperti itu? kalau aku sih ngga mau ya.
Ataupun masih status pacaran, dan mungkin setting-nya tak bakalan terwujud. Pasti. Bagaimana mungkin, tak ada sad story. Jadi seakan-akan pacaran itu nikmat. Asik. Padahal mah pasti ada cemburu.
"Nis, kapan punya pacar?".
Why? Sejak kapan pertanyaan semacam aneh itu ke aku? Biasanya mereka bertanya tentang pealajaran. Kenapa tiba-tiba bahas seperti itu? Dan satu point lagi. Aku masih SMP. Masih imut-imutnya(aduhh mimpi). Kenapa membahas yang seperti itu juga. Sayang banget. Mending buat nulis cerita atau membuat syair yang masuk hati.
"Hana(anak teman Ibu). Kenal Hana kan Kak? Iya masih TK. Pernah ditanya oleh temannya. 'Na, belum punya pacar?'. Hana hanya tersenyum, "Kata Ummi(panggilan dalam bahasa arab yang berati Ibuku), pacaran itu tidak boleh,". Temannya membalas, 'Buang saja kata-katamu ke tong sampah!'. Lalu pergi,".
Aku kaget. Dan ini kisah nyata. Aku benar-benar tak percaya. Anak TK sudah mengerti percintaan. Tapi satu-persatu misteri pertanyaan Ibu terjawab. Kenapa Ibu sangat khawatir dengan anaknya tentang media. Apalagi Televisi. Ibu memang baik.
Tiba-tiba aku teringat dengan cerpen lamaku. Tahun 2012. Ku buat cerpen itu pada saat menduduki bangku kelas empat SD. Masih belajar menulis cerita, alias pemula. Salah satu kutipan karya cerpenku yang lolos seleksi lomba tingkat nasional pada tahun 2012.
Media yang sehat bagiku ketika semua itu terjaga. Saling menghargai dan ditayangkan sesuai dengan umurnya. Aku berharap suatu saat nanti Media sehat akan segera terwujud... Aaammiinnn
Oh ya pasti banyak yang bertanya.. Dapat Ide nya dari mana?? Hayoo Tebakk..
1. Dari Cerpenku yang pernah lolos tingkat nasional tahun 2012
2. Dari Mama
3. Dari doi (ups)
4. Dari beberapa sumber wacana
Terima kasih telah membacaaa







Exchange link? tell me at my cbox...


0 Komentar available :
Posting Komentar